Harga Minyak Dunia Tembus US$ 116,72 per barel, Dipicu Isu Perang Timur Meluas

Ilustrasi Kenaikan harga minyak dunia


DEKANNEWS - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga minyak dunia. Bahkan melonjak ke level tertinggi dalam enam bulan pada perdagangan Jumat. 

Mengutip CNBC, Sabtu (24/10/2026), harga minyak mentah Brent naik 3,1% menjadi US$ 116,72 per barel. Angka tersebut merupakan harga penutupan tertinggi sejak 29 April. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 3,8% menjadi US$ 103,27 per barel.

Ancaman konflik yang meluas antara Iran dan pihak-pihak yang berseberangan, diseryai serangan terhadap wilayah Arab Saudi, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global.

Kepala Amgkatan Darat Iran menyatakan militernya siap menghadapi “perang asimetris” setelah memperkuat kemampuan tempur. Pernyataan tersebut dilaporkan kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.

Sementara itu, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Uran dilaporkan terus melancarkan serangan ke Arab Saudi. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) bahkan memerintahkan personel non-esensialnya meninggalkan negara tersebut menyusul serangkaian serangan yang terjadi.

Media pemerintah Arab Saudi melaporjan, serangan pesawat nirawak terhadap ladang minyak Shaybah pada Rabu menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya. Pada hari yang sama, serangan di Bandara Internasional King Fahd, Dammam, juga dilaporkan menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai delapan orang.

Di tengah situasi terserbut, raksasa minyak Saudi Aramco dilaporkan meminta karyawan mengosongkan kantor pusatnya di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh. Langkah itu diambil setelaj serangkaian serangan yang dikaitkan dengan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Kondisi keamanan yang memburuk memicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan produksi dan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah. Jika konflik semakin meluas dan mengancam jalur pengiriman maupun fasilitas energi, pasokan minyak global berisiko tertekan sehingga dapat mendorong harga minyak dunia naik lebih tinggi. (Zat)